{"id":131,"date":"2025-07-18T10:33:25","date_gmt":"2025-07-18T10:33:25","guid":{"rendered":"https:\/\/www.nuswantarafoundation.org\/?p=131"},"modified":"2025-07-18T10:52:08","modified_gmt":"2025-07-18T10:52:08","slug":"apa-itu-sekolah-rakyat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.nuswantarafoundation.org\/?p=131","title":{"rendered":"Apa itu Sekolah Rakyat ?"},"content":{"rendered":"<p><strong>Dosen Investor<\/strong>&#8211; Dilansir dari siaran pers Kantor Komunikasi Kepresidenan,\u00a0 SR ( Sekolah Rakyat ) adalah program inisiasi Presiden Prabowo Subianto, yang ditujukan untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Pelaksanaan SR dimulai\u00a0 di tahun ajaran 2025\/2026, diawali dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Program pada Senin, 14 Juli 2025 .<\/p>\n<p>Program SR bertujuan menyiapkan sumber daya manusia yang tangguh sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. \u201cSekolah Rakyat merupakan implementasi Asta Cita nomor empat Presiden Prabowo. Presiden memahami bahwa pendidikan menjadi kunci untuk memutus rantai kemiskinan. Jangan sampai kemiskinan menjadi warisan,\u201d ungkap\u00a0 , Adita Irawati, Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan. PCO, Minggu (13\/7).<\/p>\n<p>Apa itu Sekolah Rakyat<\/p>\n<p>Sekolah Rakyat adalah sekolah gratis berasrama yang diperuntukkan khusus bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.\u00a0 Dimana\u00a0 hingga saat ini masih banyak keluarga dari kelompok miskin maupun miskin ekstrem -yakni warga dengan kategori desil 1 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) Badan Pusat Statistik (BPS) yang\u00a0 belum memiliki akses terhadap pendidikan layak, apalagi berkualitas. Hambatan utamanya adalah kondisi ekonomi.<\/p>\n<p>\u201cSekolah negeri saat ini memang sudah gratis, tetapi bagaimana dengan biaya transportasi?\u00a0 Bagaimana dengan uang jajan, seragam, dan perlengkapan lainnya? Itu semua menjadi beban keluarga. Sementara, untuk makan sehari-hari saja mereka sudah kesulitan,\u201d terang Adita.<\/p>\n<p>Sekolah Rakyat\u00a0 Jawaban Jangka Panjang Untuk Memutus Rantai Kemiskinan<\/p>\n<p>Kemiskinan menjadi sumber ketidakmampuan masyarakat untuk mengakses layanan dasar utama seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang layak. Berdasarkan data BPS (2025) jumlah penduduk miskin pada September 2024 sebesar 24,06 juta orang atau 8,57%.\u00a0 Dan sebanyak 3.170.003 jiwa masuk dalam kategori miskin ekstrem.<\/p>\n<p>Persoalan kemiskinan ini tentunya menjadi tantangan berat dalam upaya untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Karena kemiskinan sangat mempengaruhi pengembangan sumber daya manusia, kemiskinan akan berdampak pada keterbatasan akses terhadap pendidikan yang berkualitas, pelatihan keterampilan, layanan kesehatan yang memadai, serta pangan dan gizi yang mencukupi.<\/p>\n<p>Ketidakmampuan mengakses pendidikan yang berkualitas akan berdampak pada rendahnya tingkat literasi dan keterampilan, yang selanjutnya membatasi peluang individu untuk mengakses pekerjaan yang lebih baik untuk meningkatkan pendapatan dan mensejahterakan\u00a0 mereka.<\/p>\n<p>Keterbatasan ekonomi menjadi tantangan dalam hal pemerataan pendidikan. Berdasarkan data BPS (2024) capaian Angka Partisipasi Kasar (APK) jenjang SMA\/SMK sederajat pada rumah tangga kelompok pengeluaran terendah (kuintil 1) sebesar 74,45%, sementara pada kelompok pengeluaran teratas (kuintil 5) capaiannya sebesar 97,37%.<\/p>\n<p>Persentase Anak Tidak Sekolah tertinggi berada pada kelompok umur 16-18 tahun, sebesar 19,20%. Sekitar 730.703 siswa lulusan SMP tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah atas. Dari jumlah tersebut, 76% keluarga menyatakan bahwa faktor ekonomi menjadi penyebab utama anak mereka tidak dapat melanjutkan sekolah, sementara 8,7% anak-anak tersebut harus mencari nafkah atau menghadapi tekanan sosial dari lingkungan keluarga mereka.<\/p>\n<p>Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun 2022 mencatat, angka putus sekolah di tingkat SMP mencapai 1,12%, sementara di tingkat SMA mencapai 1,19%.<\/p>\n<p>Sekolah Rakyat Pintu Gerbang Menuju Indonesia Emas<\/p>\n<p>Kondisi tersebut kemudian mendorong Presiden Prabowo untuk menggulirkan Program Sekolah Rakyat. Melalui konsep sekolah gratis berasrama ini diharapkan anak-anak dari keluarga rentan dapat menikmati pendidikan yang setara dan berkualitas tanpa terbebani urusan biaya hidup.<\/p>\n<p>\u201cDengan adanya Sekolah Rakyat, seluruh kebutuhan siswa\u00a0 akan ditanggung oleh negara,\u201d tegas Adita.<\/p>\n<p>Lebih dari sekadar akses, melalui pemetaan bakat dan potensi siswa, Sekolah Rakyat juga dirancang untuk memberikan keterampilan hidup secara maksimal kepada para siswa, sehingga ketika lulus mereka siap memasuki dunia kerja maupun untuk membangun usaha mandiri.\u00a0 Dengan begitu, diharapkan mereka dapat meningkatkan taraf hidup keluarga dan komunitasnya.<\/p>\n<p>\u201cPresiden Prabowo Subianto telah mewanti-wanti para pembantunya bahwa Sekolah Rakyat harus terlaksana dengan tepat, menggunakan cara yang benar, dan benar-benar mencapai tujuannya. Para siswa diharapkan menjadi generasi muda yang mampu berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045,\u201d pungkas Adita<\/p>\n<div class=\"sharedaddy sd-sharing-enabled\">\n<div class=\"robots-nocontent sd-block sd-social sd-social-icon-text sd-sharing\">\n<h3 class=\"sd-title\"><\/h3>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dosen Investor&#8211; Dilansir dari siaran pers Kantor Komunikasi Kepresidenan,\u00a0 SR ( Sekolah Rakyat ) adalah program inisiasi Presiden<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":134,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-131","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidkan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.nuswantarafoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/131","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.nuswantarafoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.nuswantarafoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nuswantarafoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nuswantarafoundation.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=131"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.nuswantarafoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/131\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":133,"href":"https:\/\/www.nuswantarafoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/131\/revisions\/133"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nuswantarafoundation.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/134"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.nuswantarafoundation.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=131"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nuswantarafoundation.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=131"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nuswantarafoundation.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=131"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}